–continue– Ikhtiar “all the best” dan belajar menerima “apapun” hasilnya.

5-12-11, angka yang tidak biasa, namun untuk saat inilah sejarah itu terukir. Hati ini sungguh gerimis ketika keyboard laptop mengirimkan sinyal untuk menampilkan tulisan ini.  Dengan disaksikan  haru biru kekecewaan ayah dan bundaku tercinta..

Belajar menerima bahwa ikhtiar itu harus dilakukan maksimal namun untuk “hasil” tetaplah sudah ada yang menentukan, Gusti Allah SWT semata.  Sungguh berat, namun disinilah ujian-Nya, i’ll learn anything new on my life, right now..

Bulan Juli 2011, ketika masih diriku masih diamanahi sebuah kepanitiaan pembinaan mahasiswa baru. Yap , saya adalah mahasiswa “lama”  jurusan Fisika, Universitas Brawijaya angkatan 2009 yang memilih banyak amanah. Tentunya amanah yang mensibukkan hal-hal positif daripada selama liburan menganggur , dan malah berpaling hal-hal lain yang tidak urgent, he🙂

Ketika itulah suatu waktu luang yang kugunakan untuk memanfaatkan internet kampus,  aku dengan bangganya  melihat -home- di facebook, yang menyajikan posting dari Akhwat Fathonah (that is, her lovely nickname @facebook!) salah satu saudariku yang sangat kusayangi,  wall.nya dipenuhi dengan puluhan komentar, entah positif ataupun guyonan. Kira-kira isi  postingan.nya begini  :

Dapat sms dari calon maba, jangan sia-siakan kesempatan kuliah yang mbak dapatkan, masih banyak diluar sana yang tidak bisa kuliah dengan segala keterbatasan biaya,termasuk saya, bersyukurlah mbak diberikan rizki untuk kuliah tanpa kekurangan suatu apapun… * merasa tertohok

kondisi yang sama denganku!

Lalu dengan spontan pun aku menuliskan,

” Siapa mbak? Anak jurusan mana?, saya juga kuliah dengan menunda seluruh biaya awal, 5 juta sekian tetapi alhamdulillah ditunda dan masih jalan sampai saat ini, ini juga baru saja melunasi, dengan beasiswa mbak!

Tidak kusangka itulah awal, aku bertemu dengan seorang adik, adik yang sangat kusayangi namun akhirnya lepas jua dari segala ikhtiarku.


PART II continue…

Namanya sebut saja  Bunga (karena nama aslinya memang berarti bunga dalam bahasa jepang, ^^),  mahasiswi angkatan 2011. Dia berasal dari desa Sri Katon, Ringinrejo,Kediri, perbatasan Kediri-Tulungagung. Anak yang sederhana, polos, dengan pribadi yang sangat tertutup. Dia diterima dari jalur PMDK, namun dengan mengajukan program BIDIK MISI. Sayangnya, ketika diajukan dia lolos jalur penerimaan namun tidak lolos program bidik misi, walaupun (bagiku) dia cukup beruntung mendapatkan golongan VIII alias bebas SPP hanya membayar 200 ribu untuk setiap semester.

Prahara keluarga Bunga pun dimulai ketika Bunga mengungkapan keinginannya untuk kuliah. Ketika dia dikenai biaya masuk yang luarbiasa bagi mereka yaitu sebesar Rp 2.800.000,-. Kakaknya yang sangat keras, melarang dia kuliah,  dia tidak mendapatkan bidik misi, untuk apa kuliah kalau hanya mengeluarkan uang yang sangat banyak , mending juga menjaga orang tua, memberi makan usaha ikan miliknya , sudah menghasilkan uang, membantu orangtua lagi.

Pikiran yang amat sempit, namun memang itulah yang terjadi saat ini. Ironi memang, teman-teman yang cukup secara finansial, tidak banyak diantara teman-teman mahasiswa yang mau menghargai pengorbanan orangtua yang sangat luarbiasa dengan kekhawatiran luarbiasa pula melepas anaknya untuk berkuliah di Universitas dengan hanya kuliah, pulang, nongkrong, nonton, atau sekedar bergosip ria diteras kampus. Atau dengan mahasiswa yang luarbiasa sibuk kepanitiaan, kaderisasi, orasi, memikirkan wacana-wacana yang ceritanya untuk Indonesia paling baik dari konsep A-Z, namun kuliah pun hanya mendengarkan dosen, absen , kemudian kembali lagi  berbicara AA-ZZ dengan penuh sindiran-sindiran yang luar biasa terhadap negeriku tercinta ini.

Back to Bunga, adikku tersayang yang harus melepaskan kesempatannya untuk berkuliah..

Sayangnya,  fakta-fakta negatif itulah yang merasuk dalam pemikiran -pemikiran keluarga Bunga. Dengan tidak melihat contoh teman-teman yang berhasil kuliah dengan baik, justru yang berkembang di keluarganya adalah bagaimana kuliah hanya untuk orang yang mampu, yang siap mengeluarkan uang seperti yang diminta universitas. Atau.. kuliah itu hanya membuang waktu dan uang, karena banyak mahasiswa  tetangga yang “meratap”, tidak mampu beradaptasi dengan lingkungan perkuliahan.

Yah, Berkuliah  memang banyak godaan, tak terkecuali pun saya.  Memang pada awalnya, saya selalu berpikir bagaimana bisa melunasi biaya kuliah, bukan kuliah dengan benar. Alhasil, kuliah semester 1 pun tidak fokus, dan membuat tebaran nilai-nilaiku berkisar di “C”. Praktikum yang luar biasa padat, laporan menumpuk, wow, hidupku di SMA yang begitu santai beud, tidak pernah kembali lagi.

Tetapi disitulah proses belajar. Untungnya setelah  aku memilih tidak bekerja, aku selalu ingin mencari tahu bagaimana ilmu yang aku pelajari dapat berguna dikemudian hari. Kemudian kukembalikan lagi niatku berkuliah, bukan hanya untuk mencari uang tetapi memanfaatkan ilmu yang bisa kuaplikasikan di sekitarku.

Keluarga Bunga yang sangat kaku, dan terlalu berkhawatir..

Bunga tidak dibesarkan dengan kondisi yang dia sendiri boleh memilih. Berbeda sekali dengan aku yang dengan bersikeras untuk bekerja,  memilih aktif berorganisasi, walaupun orangtua dan kakak yang tidak mendukung.  Aku tetap bebas memilih! Tetapi tidak dengan Bunga. Dia tidak berani untuk memutuskan, dan selalu dibayangi ketakutan untuk melangkah. Alasan ekonomi membuat keluarganya tidak pernah ada yang sampai kuliah, hingga kemudian si Bunga dilarang. Terlebih setelah divonis jantung lemah, seolah-olah Bunga pun kehilangan semangat, kehilangan kemauan, dan kehilangan pula prinsip dirinya.

Ibarat membicarakan seorang kepemimpinan yang ketakutan, maka niscaya dia tidak akan mampu untuk memimpin bahkan untuk dirinya sendiri. Berjuta-juta kalimat, sepertinya telah kuutarakan untuk menguatkan hatinya, membangun pendiriannya bersama saudara-saudaraku lainnya hingga akhirnya dia merasakan berkuliah. Hingga naas 2 minggu yang lalu, efek cuaca yang ekstrim untuk ukuran pendatang,  membuat Bunga pingsan. Dan akhirnya tervonis jantung lemah di salah satu rumah sakit di Kediri. Sejak itulah terputus  komunikasi kami, juga dengan teman-temannya.

Teringat betul bagaimana dosenku selalu menyisipkan kalimat yang sangat kucoba untuk memahami kondisi saat ini.

Sebaik-baiknya manusia adalah manusia yang memberi manfaat bagi yang lain“. Seolah-olah tertanam dalam di diriku, aku harus sekali memeluknya, membisikkan kata-kata penyemangat, dan membuat dia yakin bahwa dia bisa melalui musibah ini. Bak bicara dengan air kolam, ketika mulut menggetarkan hati, airnya seolah-olah beriak, namun kembali lagi kebentuk awal. Akhirnya dia menolak segala tawaranku, semua berakhir dengan,

” Maaf mbak,, Bunga dan sekeluarga memutuskan Bunga mengundurkan diri saja, terimakasih atas bantuan mbak selama ini, Bunga mencoba mengembalikan semua dana yang terpakai Bunga sampai saat ini..terimakasih banyak mbak..”

Yap, hatiku meringis, meratap, namun hanya terungkap dengan butir-butir airmata yang tak kunjung henti. Tidak henti pula mamaku menasehati ” Sudahlah, dia bukan siapa-siapamu, kamu harus menghargai keputusan dia,  tetap fokus yang kamu lakukan saat ini,ya?”. Aku hanya bisa mengiyakan dan melanjutkan makalahku (walaupun kemudian menulis kisah ini dalam part I).

Ya..benar, dia adikku yang kuimpikan dan tak sanggup kuraih..

Ikhtiar, ya, usaha yang kulakukan, tampaknya berujung sia-sia. Tetapi bagiku, ikhtiarku tidak sia-sia. Banyak yang kudapatkan, senyumannya ketika masih ada di UB, haru biru Bunga ketika sampai di Malang, teman-teman sekelasnya yang luar biasa. Setiap detilnya akan selalu kuingat. Memang aku harus sadar, apapun hasilnya , Allah-lah yang berhak menentukan.  Ikhtiarku telah maksimal dan aku harus menerima, menerima jika dia harus lepas dari lingkunganku..:)

Teman-temanku sekalian, setelah membaca kisah ini, petiklah manfaatnya. Tidak semua bisa berkuliah, tidak semua bisa memilih seperti apa jalan hidupnya kelak, seperti halnya Bunga. Namun sadarilah kawan, keberadaan kalian disini, Universitas Brawijaya adalah anugerah.

Orangtua tidak dengan mudah melepaskan kalian,

Orangtua tidak dengan mudah merelakan kita berkuliah,

Orangtua selalu dengan luarbiasa mendampingi kita, merelakan kita,

dan selalu mendoakan kita all the best.

Apalagi alasan kalian untuk tidak sukses berkuliah disini??

Ingat, ingatlah kisah Bunga ketika motivasi kalian untuk belajar menurun, ingatlah betapa seorang yang rapuh dan menyerah karena merana masalah pertentangan keluarga , sementara teman-teman masih mempunyai keluarga yang harmonis.

Pilihlah, mau jadi apa kalian!

Orangtua tidak akan menyesal ketika kita BERHASIL ,

Buktikanlah bahwa kita telah BERHASIL dengan berkuliah!

Dan yang terakhir,

Kelak, suatu saat ketika kawan-kawan diberikan kesempatan untuk menjadi orangtua….

Jadilah orangtua yang bijak, karena orangtua yang bijak tidak akan merenggut kesempatannya jika itu baik untuknya..

Semoga Allah SWT selalu memberikan rahmat dan cinta-Nya untuk selalu membuat kita tersesat di jalan  bercahaya milik-Nya, 

Amin ya rabbal alamin..

Malang, 10 Desember 2011

Gerhana Bulan @Puri Cempaka Putih Malang (22.04)

Di tengah-tengah ujian yang amat perlu kesabaran LUARBIASA

Cuwi Arrahma

Fisika 2009

Alhamdulillah

Part II- Ikhtiar “all the best” dan belajar menerima “apapun” hasilnya

telah selesai,

Semoga Terinspirasi..

3 thoughts on “–continue– Ikhtiar “all the best” dan belajar menerima “apapun” hasilnya.

  1. “Sebaik-baiknya manusia adalah manusia yang memberi manfaat bagi yang lain“.
    sepertinya tidak asing dengan kata2 ini….
    dosen yang luar biasa🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s